Halaman

Senin, 06 Juni 2011

Memiliki tak selalu berarti menikmati



Dalam sebuah obrolan ringan dalam perjalanan keluar kota, seorang rekan bertanya,  “mungkinkah  orang-orang  yang  sudah  mapan  secara  ekonomi, dan  dikategorikan  kaya  hatinya  bisa  terus  bergantung  kepada  Allah, sedangkan aktivitas lahir keseharian ia begitu sibuk dengan urusan bisnis ?”
Mendengar  pertanyaan  tersebut,  rekan  saya  yang  lain  memberikan sebuah  komentar,  “Secara  logika,  sulit  diterima,  karena  fikiran  ini  akan maksimal  bila  tidak  bercabang,  bagaimana  mungkin  hatinya  bergantung bersama  Allah,  sedangkan  aktivitas  hariannya  tidak  mendukung  ke  arah itu.” begitu komentar rekan saya yang lain.

Obrolan  itupun  belum  terhenti,  rekan–rekan  yang  lain  saling menambahkan. ”Sebagian  orang  kaya,  justru  sadar,  bahwa  aktivitas mereka bisa memalingkan dari keadaan bersama Allah, makanya diantara mereka  ada  yang  membuat  planning,  setelah  diatas  umur  50  tahun,  akan berhenti  dari  aktivitas  bisnis  kemudian  terjun  di  aktivitas  sosial  dan keagamaan.” Begitu ungkap yang lain.

Agak  lama,  sayapun  terdiam  belum  memberikan  komentar  apapun  atas obrolan rekan– rekan ini, namun beberapa lama kemudian, saya teringat kisah  seseorang  yang  protes  kepada  Syekh  Abu  Hasan  As  Syadzili. Sebagaimana kita ketahui Syekh Abu Hasan As Syadzili adalah seorang sufi yang diberi anugerah lahir memiliki kekayaan materi.

Seseorang  bertanya  kepada  syekh,    Ya  Syekh,    bagaimana  anda  bisa begitu  jelas  tawajuh  kepada  Alloh  terus  menerus  bersama  Alloh sedangkan  Anda  ini  dengan  kehidupan  yang  begitu  mewah  ?”,  begitu pertanyaan  seseorang.  Mendengar  itu,  Syekhpun  menjawab,  “kamu ingin  tahu  jawabannya  ?,  kalau  begitu  mari  ikut  bersama  saya,  naik kereta kencana keliling kota, silahkan kamu bawa air didalam gelas ini, syaratnya air ini tidak boleh tumpah dari gelas”. Begitu ungkap syekh.

Setelah  selesai  keliling  kota  sampai  begitu  lama,  kemudian  turunlah sang syekh dan orang itu, setelah turun syekhpun bertanya, “ bagaiman menurut  kamu  pemandangan  di  kota  ini,  indah  kan  ?”  begitu  tanya syekh.  Mendengar  pertanyaan  itu,  orang  itu  menjawab,    bagaimana saya  bisa  menikmati  keindahan  pemandangan  kota,  sedangkan  saya terus menerus berkonsentrasi supaya air di gelas tidak tumpah.” Begitu jawabnya.  Mendengar  jawaban  itu,  Syekh  Abu  Hasan  As  Syadzili berkata, “Begitulah hati saya ditengah kemewahan ini. Tidak sedikitpun saya menikmati kemewahan. Hati saya hanya untuk Alloh.”

Tanpa diduga, tiba – tiba terdengar dering telpon handphone rekan saya, yang  bertanya  tadi.  Sepintas  kedengaran  telpon  dari  isterinya,  namun yang  jelas  ia  begitu  asyik  menikmati  pembicaraan  di  telepon  itu,  hingga wajahnyapun terlihat berbinar-binar.

Sedangkan  rekan  – rekan  yang  lain  kelihatan  berhenti  membicarakan  topik  obrolan  itu,  mereka  lebih  asyik  menikmati  pemandangan  alam  pegunungan yang kebetulan sedang dilewati.

Setelah  lebih  dari  setengah  jam,  rekan  saya  yang  tadi  ngobrol  dengan isterinya  lewat  telepon  kemudian  berhenti  dari  telepon,  sesaat  kemudian ia  kelihatan  begitu  riang  gembira,  tanpa  basa  – basi,  ia  berkata,  ” alhamdulillah.... isteri saya hamil....” begitu ia berkata, spontan kemudian seluruh rekan–rekan dan sayapun menyalami ucapan selamat kepadanya.

Tak  terasa  perjalananpun  sudah  sampai  ke  tempat  tujuan,  ketika  sudah turun  dari  kendaraan,  seseorang  rekan  yang  lain  menyela,    jadi  gimana nih,  jawaban  dari  pertanyaan  tadi  tentang  ketergantungan  kepada  Allah, padahal  aktivitasnya  sibuk  dengan  urusan  bisnis?”,  saya  kemudian menjawab,  ”sudah  terjawab  kok,  tanya  saja  sama  yang  memberi pertanyaan.”  begitu  jawab  saya.  Mendengar  itu  rekan  sayapun  masih penasaran,  kemudian  sayapun  berkata  lirih,  ”Tadi  ketika  ia  ditelepon istrinya, ia menikmati indahnya pemandangan alam pegunungan yang kita lihat  ga?”  tanya  saya.  Rekan  saya  menjawab,  ”ia  lebih  asyik  dengan telepon istrinya”, jawabnya. Sayapun berkata, ”nah itu jawabanya...”

Setelah itu, rekan saya terlihat manggut–manggut, dan saya yakin ia telah menemukan jawabannya.

Wallahu a’alam.

Sumber : www.kangtris.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar